Jumat, 29 Mei 2015

My Little Aikidoka

Ceritanya, kedua bidadari saya meminta kegiatan tambahan (baca: kegiatan luar rumah). Saya membaca gejala ini sebagai: mereka ingin menambah wawasan dan wilayah pergaulan. Syukurlah, tiba juga saatnya.
So, mulailah perburuan. Kami memulai dengan sebuah lembaga bimbingan matematika. Tetapi setelah dipikir-pikir, nanti di sekolah juga dapat matematika. Masa ikut kegiatan ekstrakurikuler juga matematika. Nggak jadi deh.
Kami mulai melirik kegiatan fisik. Ada banyak alternatif. Setelah menimbang, menyaksikan dan uji ketertarikan, pilihan jatuh pada Aikido.
Sore itu, kami menyengaja mengunjungi Eiki Dojo, nama tempat latihan Aikido di kota kami. Saat itu sudah lewat Isya, jadi yang sedang digelar adalah kelas dewasa. Mereka sedang berlatih menggunakan tongkat kayu. Gerakan dan aura fun yang mengisi dojo membuat kedua bidadari betah menunggu. Kami terus menonton sampai break. Saat itulah pelatihnya mendatangi kami dan menyapa:
"Selamat malam. Bisa dibantu?"
Nah, satu nilai positif sudah saya pegang. Maka mengalirlah obrolan singkat bahwa kedua bidadari saya ingin ikut, tetapi kabar yang kami terima, peserta minimal berumur 10 tahun. Eh, ternyata Sensei Erik yang menerima kami mengijinkan kedua bidadari saya yang baru 6 dan 8 tahun ikut, tetapi di Kids Class.
Kedua bidadari senang sekali. Maka kami pamit pulang.
Sambil berjalan, mereka asyik mengobrolkan latihan yang akan mereka ikuti minggu berikutnya.
Latihan pertama, mereka nampak menikmati. Saya sendiri menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama beberapa senior. Dari mereka saya tahu bahwa Kids Class Aikido bukan untuk fight, tetapi melatih fisik anak agar kuat, mereka gembira tetapi tetap bisa membela diri. Jadi latihannya ya seperti orang bermain begitu. Permainannya masih seputar aktifitas fisik Aikido juga. Contohnya Sikko Soccer, ini adalah sepak bola, tetapi dilakukan dalam posisi sikko (berjalan jongkok). Ada juga ular tangga. Peraturannya persis seperti ular tangga, tetapi untuk berpindah menggunakan gerakan sikko dan Ukemi (berguling ke depan).
Saya sih, selagi kedua bidadari fun, mereka tambah sehat dan disiplin, go on saja. Bahkan kebiasaan baik seperti cara naruh sandal di depan pintu, itu mereka bawa ke lingkungannya yang lain.
Satu golden moment yang lain, ketika suatu hari break latihan, si kakak menunjuk seragam Sensei Erik sambil bertanya: "Suatu saat aku bisa pakai celana seperti itu?"
"Tentu saja. Jadi tekunlah berlatih, ya."

Jumat, 27 Maret 2015

Vertical Garden (7)

Dalam setiap aktivitas, kegalauan mungkin saja melanda. Biasanya ketika mendapati kenyataan tidak sejalan dengan keinginan. Bisa juga karena banyaknya pilihan dan semuanya tidak bisa atau malah harus dipilih. Dalam usaha membuat vertical garden, saya juga mengalami hal serupa.
Sebagai guru merdeka, saya memang bebas untuk tidak menetap di satu wilayah saja. Sejauh itu, dengan berbagai pemakluman dan percaya dengan track record, semua bisa berjalan bersamaan. Tetapi kondisi ini anomali ketika ujian datang. Dipercaya menjadi pengawas di luar, tentu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Resikonya, tidak bisa check pagi tiap hari.
Syukurlah, saya memiliki murid-murid yang bersemangat. Dengan dipesani agar menyiram vertical garden setiap pagi, tanpa perlu diingatkan dan diawasi, mereka bergantian melaksanakan amanah. Meskipun hanya beberapa hari sekali bisa mampir, itupun siang hari, saya masih bisa mendapati tanaman-tanaman itu bertahan hidup dan vertical garden bertambah hijau. Walau mungkin ada beberapa media yang terlewati air, sehingga harus berakhir menyedihkan, setidaknya masih banyak bagian lain yang bertahan dan terus tumbuh.

Terima kasih murid-muridku. Kalian hebat.

Vertical Garden (6)

Vertical garden kami mulai nampak hijau. Tanaman sawi mulai terlihat akan bisa dinikmati dalam sajian mie beberapa saat lagi. Kuncup bunga ungu mungil di tengah dedaun Velces mulai muncul. Sulur-sulur gambas mencari wilayah yang lebih luas. Kacang hijau tegak setinggi jengkal. Cabe dan kacang panjang nampak segar.
Pujian mulai diberikan. Bahkan dukungan berupa sumbangan tanaman hias mulai berdatangan. Saat pengawas datang, tentu bisa langsung melihat perubahan wajah sekolah. Apalagi sering terlihat di pagi hari anak-anak bergantian menyiram satu demi satu tanaman (berikut teman yang lokasinya terdekat) dengan sprayer. Itu pemandangan yang indah. Sarapan pagi paling menyegarkan he he he.
Beberapa orang memberikan saran agar memunculkan vertical garden kedua di tempat yang memungkinkan. Saya bersyukur upaya ini diapresiasi. Tetapi jujur saja, menjaga kelangsungan satu vertical garden saja mengharuskan piket pagi enam hari seminggu. Dengan kondisi kami masih belajar dan pelakunya 4L, ya cukup menantang. Jika ingin ada vertical garden kedua, kami harus menemukan cara yang lebih efektif.  
Jadi jawaban saya sederhana saja.
“Satu ini dibuat subur dulu, sampai panen. TOGA yang terselip dapat tumbuh dengan baik dan dapat digunakan. Setelah itu baru perluasan wilayah.” Sederhana saja.

So, sampailah kini pada persimpangan ketika kesibukan di luar harus berjalan beriringan dengan kelangsungan hidup vertical garden. Apa yang terjadi? Besok ya.