Kamis, 11 Agustus 2016

Aroma Kasih


Sejak masih ingusan, setiap menjelang Subuh saya dibangunkan oleh aroma kasih dari mulut mama. Jika saya sedang fit, maka dengan membaui aroma panggilan sayang itu saya sudah bisa langsung bangkit. Tetapi saat sedang tidak fit, maka tidak hanya berkali-kali aroma panggilan sayang yang nadanya semakin tinggi, tetapi dilengkapi dengan gempa kecil, bahkan gerimis lokal.
Saat pulang sekolah, sekitar jam 2 siang, saya disambut pelukan disertai ciuman beraroma yang sampai sekarang hanya milik mama. Aroma itu terus menyertai saya makan siang, istirahat, bahkan saat bersiap untuk mengaji, dan berangkat ke tempat les. Sepertinya saya juga masih mendapati aroma serupa menjelang keberangkatan berjamaah Maghrib. Aroma itu menghilang saat pulang selepas Isya dan menjelang tidur.
Semakin besar, saya makin tidak bergantung pada aroma panggilan sayang. Saya telah mendapatkan pola bangun yang baik, yaitu ketika alarm dalam kepala saya berbunyi karena syaraf muda di hidung saya membaui aroma kasih yang khas dari dapur. Saya juga telah paham bahwa aroma khas itu timbul dari serbuk hitam pahit, yang diseduh dengan air panas. Bila dinikmati bersama papa sebelum matahari terang, mama menambahkan gula. Tetapi di sisa waktu minuman ini dinikmati dari paduan dua bahan saja.
“Mengapa mama minum begitu banyak kopi?” tanya saya suatu hari.
Mama tidak bersegera menjawab. Tetapi berlama-lama menatap kedua mata empat belas tahun milik sulungnya. Saya tidak paham apa yang beliau cari dari pasangan mata lelaki kecil ini. Saya makin tidak paham ketika mama tersenyum.
“Sebenarnya tidak banyak. Mama tahu takaran maksimal kafein yang bisa ditoleransi tubuh mama, juga berapa jumlah wajar gula. Mama perlu kopi untuk membuat mama tetap bangun dan bisa mengurus kalian berempat sebaik-baiknya.”
“Apakah kami berempat sangat merepotkan sampai mama perlu energi dan waktu begitu banyak?”
Mama tersenyum sambil menghela nafas.
“Saat ini, Dean sudah bisa bangun sendiri, cuci baju sendiri, merapikan kamar sendiri, bahkan bisa bantu mama bersih-bersih rumah. Tetapi ketiga adikmu? Chica baru berhasil rutin merapikan tempat tidurnya dan bangun pagi. Anne baru bisa rutin mandiri mandi dan makan. Dedek belum mandiri semua.”
Aku 14 tahun, Chica 10 tahun, Anne 8 tahun, dan Dedek 3 tahun. Mama sukses membuatku bungkam untuk sibuk dengan aroma berpikir.
*****

“Mas, sekarang giliran mas jagain mama. Dedek mo kuliah.” Suara Dedek terdengar panik di telingaku.
“Ya, baiklah. Kamu tinggal saja dulu. Setengah jam lagi mas tiba.” Jawabku.
Tanpa salam Dedek menutup kontak.
Kulanjutkan konsentrasi pada kemudi dan jalanan di depanku. Rumah sakit tinggal beberapa belokan lagi. Sepuluh menit seharusnya sudah lebih dari cukup. Dua puluh menit sisanya akan kugunakan untuk perjalanan dari area parkir menuju ruang perawatan mama. Mungkin masih akan ada waktu untuk mampir ke kantin rumah sakit dan mencecap secangkir kopi yang tak sempat kuseduh tadi pagi.
Tiba di kantin, antrian kios kopi menggila. Rupanya pagi yang suram ini membuat banyak orang membutuhkan asupan kafein. Aku bukan jenis orang yang adiksi kafein. Hanya merasa hariku kurang lengkap tanpa dimulai dengan secangkir kopi hitam dan panas. Aku masuk antrian. Beraneka rupa para pengantri ini. Ada yang berdiri sambil sibuk menelepon soal pengiriman barang. Ada yang sibuk berputar-putar sambil mengarahkan layar HPnya. Mungkin tengah bervideo call dengan seseorang yang sangat perlu memastikan kondisi lingkungan. Ada yang terus menerus memelototi layar, mungkin sedang menangkap monster. Ada pria tinggi besar tepat di depanku yang terus menerus menguap dan mengucek matanya.
Tengah berada pada urutan ke sepuluh, seorang bocah menghampiri pria itu.  
“Bapak, ayo cepat. Ibu sesak lagi.” Kata si bocah sambil menarik-narik tangan orang yang disebutnya bapak. Pria itu sejenak nampak menimbang-nimbang antara menghilangkan penat dan kuyu wajahnya melalui asupan kafein, dengan bersegera mendatangi istrinya.
“Kan masih ada mbak Darti. Kemarin sesak tidak lama, terus baik lagi. Bapak beli kopi sebentar saja.” Kata si Bapak yang jelas nampak mengantuk dan lelah luar biasa. Si bocah menatap si bapak dengan tatapan nanar. Lalu mengangguk dan segera berlari pergi.
Antrian terus maju. Saat aku berada pada urutan ke lima, bocah itu datang lagi dengan menangis. Ia tidak bisa bicara, hanya menarik tangan Bapaknya. Si bapak menatap anaknya, lalu segera berlari sambil mengusap mata. Aku terpaku. Apa yang terjadi?
“Istrinya dirawat di sebelah adik saya. Kanker paru-paru katanya. Mungkin sudah tidak bisa bertahan.” Aroma kasak-kusuk di sekitarku.
Aku terpaku. Aroma berpikir dan mengingat mama mendadak memasuki kepalaku.
“Diminum di sini atau dibawa?” tanya petugas kantin. Kuhela nafas berat. Aroma mengingat mama kian menguat.
“Dua. Bungkus.” Ucapku pada petugas kantin.
Tidak sampai lima menit, aku telah melangkah menuju kamar mama dengan membawa dua gelas bertutup berisi kopi hitam panas. Aroma sedap beradu dengan aroma obat dan karbol. Aroma rindu beradu dengan aroma takut dan khawatir.
“Mama.” panggilku pelan sambil membuka pintu.
Mama mengalihkan pandangan dari jendela kaca. Tangan beliau terulur menyambutku.
“Dean.” Bisik mama. Kupeluk leher mama sambil mencium pipi beliau.
“Bagaimana pagi ini, Mama?” tanyaku.
Mama tersenyum.
“Mama makin sehat. Mengapa masih dibiarkan di sini.”
“Tekanan darah mama belum stabil.”
“Dean, mama bosan. Jika mama bosan, mama akan memikirkan atau mengkhawatirkan banyak hal. Jika khawatir, tekanan darah naik. Mama harus bagaimana?”
Kuusap punggung mama.
“Apa yang bisa Dean lakukan agar mama tidak khawatir?”
“Beri jaminan pada dokter bahwa mama akan tenang di rumah, sehingga tekanan darah mama akan turun dan stabil.”
Aku menatap mama.
“Mama tahu bukan begitu caranya. Mama bukan tahanan, tidak perlu jaminan. Pertanyaan Dean, apa yang bisa Dean lakukan agar mama tidak khawatir?”
Mama menatap jendela kaca lagi.
“Mama tahu kalian terpaksa meninggalkan semua aktivitas, gara-gara mama harus dirawat di sini. Dedek tadi marah-marah karena Dean terlambat datang jaga. Chica selalu terburu-buru pergi karena khawatir ASInya terkontaminasi aroma jahat rumah sakit ini. Anne enggan datang karena tidak tahan dengan hiruk pikuk rumah sakit. Mama khawatir belum menjadi mama yang baik untuk kalian.”
“Apa hubungannya, Mama?” tanyaku.
Mama langsung menoleh menatapku.
“Tidakkah kamu melihat bahwa mama belum berhasil mendidik kalian bagaimana bersikap saat orang tua kalian yang sendirian itu sakit dan perlu perawatan medis?”
Aku terpaku.
Mama menarik selimut dan berbaring miring ke arah tembok. Membelakangiku. Bahu mama berguncang.
Aku menatap dua gelas kertas di atas meja. Aroma berpikir masih menguar, tetapi aroma kasih  sayang mulai dingin dan berangsur hilang.
*****

“Apalagi, sih, Mas? Aku sudah siap menanggung 50% biaya perawatan mama. Kurang apa?”
“Aku mau kita malam ini berkumpul jam 7, di rumah. Tidak ada alasan. Peras ASImu banyak-banyak. Kasih Bebi ke papanya. Kamu datang sendiri ke rumah.”
Kututup kontak. Terus kulakukan reject jika Chica berusaha memanggil.
“Anne sedang banyak kerjaan, Mas.”
“Tidak ada alasan. Jam 7, di rumah. Tepat waktu. Sendirian.” Kataku lalu menutup kontak.
Dedek menghela nafas berat mendapatiku setengah mengancam kedua kakak perempuannya.
Sementara aku menghirup aroma berpikir dari gelasku. Masih panas. Kuseduh sendiri di rumah mama. Di rumah sakit, istriku berjanji menunggui mama sampai besok pagi. Si kembar putra kami terlelap di atas kasur neneknya.
Sampai senja lewat, aku masih membaui aroma berpikir.
*****

“Mama baik-baik saja, kok, Mas. Jika sampai besok pagi stabil begini, siangnya dokter menjamin mama boleh berkemas.” Kata istriku melalui telepon.
“Terima kasih, Sayang. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpamu.”
“Ih, si Mas. Sun sayang buat si kembar ya.”
“Oke. I love you, too.”
Istriku masih tertawa sambil menutup sambungan telepon. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Jam 7 kurang 25.
Kudengar suara mobil di halaman. Anne. Diantar pacarnya. Sejenak mereka berbicara serius, sebelum lelaki tinggi hati itu menekan gas dan melaju. Anne menggigit bibir sambil melangkah masuk rumah.
“Sebaiknya ini penting. Sepenting aku meninggalkan Adam dan kantor kami. Padahal sedang banyak permintaan ini.” Kata Anne sambil meraih cangkir dan toples kopi.
Dengan kecepatan fantastis, satu menit kemudian Anne sudah duduk, dan menikmati aroma berkarya. Sesekali ujung jari telunjuknya menggores-gores layar HP. Ditatap. Mencecap kopi. Dihapus. Gores lagi. Ditatap. Hapus. Menyeruput kopi dari sendok. Menggores lagi. Simpan. Tersenyum. Melamun lagi. Menghirup aroma nikmat. Menggores lagi. Ah, seniman.
“Assalamu’alaikum.” Teriakan Chica mengguncang rumah. Diikuti langkah-langkah tergesa dan kibasan hijab ke belakang pundak. Bahu kanannya digantungi tas branded. Bahu kirinya menenteng tas peralatan pompa ASI. Semua tas ditaruh di meja. Si empunya mendekati meja kopi. Yang ini perlu waktu hampir sepuluh menit untuk mendapatkan mahakarya capucino dengan lukisan wajahnya sendiri. Tak lama, Dedek datang dengan membawa gelas ukuran setengah liter berisi kopi saring hitam pekat. Aku sendiri meletakkan cangkir kopi susu.
Kami duduk melingkari meja makan, menghadap kopi masing-masing.
Tepat jam 7.
“Terima kasih kalian datang. Mas harap, kita semua bersikap terbuka dan legowo dengan apapun yang akan kita bahas.”
“Buruan, Mas. Time is money.” Kata Anne.
“Yeah, I know you’ll say that. Yang mau mas bahas ini tentang mama.”
“Chica sudah janji menanggung 50%. Mau cash sekarang?” tanya Chica sambil meraih tas brandednya.
No. No. No. Will you please listen?” tanyaku gusar.
Chica menyandarkan punggung sambil angkat tangan.
“Ini bukan tentang uang. Sama sekali tidak. Tanpa bantuan keuangan dari kita, mama punya cukup tabungan untuk mandiri membiayai perawatan kesehatan beliau. Tetapi ini tentang mama.”
Kuedarkan pandangan pada ketiga audience-ku. Mereka masih menatapku penuh.
“Mama, membutuhkan perhatian kita. Kehadiran kita. Keberadaan kita bersama dengan beliau. Utuh. Tidak dibayangi kesibukan. Tanpa ketakutan tertular. Tanpa maksud apa-apa. Tulus. Penuh kasih. Tidak hanya sekedar penggugur kewajiban sebagai anak kepada orang tuanya.”
“Mama selalu mengatakan, jika Dedek ada kuliah, mama ditinggal saja.” Dedek membela diri.
“Mama pasti tahu Anne tidak betah dengan bau rumah sakit.”
Kutatap mata Chica. Berharap dia tidak ikut membela diri.
“Chica masih menyusui, Mas. Tiap satu jam harus memerah ASI. Tidak ada ruang menyusui steril di rumah sakit itu. Siapa bisa menjamin ASI yang Chica peras di sana tidak terkontaminasi?”
Kuhela nafas. Aku tahu adik-adikku akan berkata sedemikian. Aku bangkit dan menuju lemari penyimpanan alat makan. Kuambil sepasang cangkir keramik. Ada tulisan nama mama di satu cangkir dan nama papa pada cangkir pasangannya.
“Kalian masih ingat ini?” tanyaku.
Sejurus mereka berdiam, lalu mengangguk.
“Itu hadiah ulang tahun pernikahan perak mama dan papa. Hasil kita menabung bersama sebulan penuh.” Kata Anne. Kuanggukkan kepala.
“Kamu sudah bersiap menikah, Anne. Dan kamu sedang menjalani pernikahan, Ca. Kupikir kalian bisa membayangkan bagaimana rasanya saat pasangan tempat kita mengikat janji setia, meninggalkan kita untuk selamanya?” tanyaku.
Chica dan Anne berdiam menatap sepasang cangkir itu.
“Pernahkah kalian mengamati bahwa sejak papa meninggal lima tahun yang lalu, mama masih minum kopi dari cangkir ini. Tetapi mama minum kopi pahit. Pernahkah kalian bertanya?”
“Dari dulu mama minum kopi pahit, Mas.” Kata Dedek.
“Tidak, Dek. Saat meminumnya bersama papa di pagi hari, selalu kopi manis.” Kata Chica.
Kuanggukkan kepala. Dedek mengangkat tangannya.
“Lalu?”
“Sepeninggal papa, mama kesepian. Mama merasa kosong. Terlebih, dengan alasan kita mampu membiayai hidup beliau, kita melarang beliau berkarya. Sayangnya kita berempat lupa. Kita  ada. Tetapi kita tidak benar-benar ada untuk mama. Kita tidak berkisah dengan mama. Kita tidak menikmati waktu bersama beliau. Ini seperti membuat kopi, tetapi tidak bisa menikmatinya karena mata kita buta, hidung kita buntu, kulit kita mati rasa, dan lidah kita tidak berfungsi.”
Chica, Anne, dan Dedek terdiam.
“Mas tahu mas bukan kakak yang bisa menjadi teladan sempurna. Tetapi kita belum terlambat. Kita masih diberi kesempatan menjadi anak yang berbakti. Kita bisa membuat mama berhenti merasa tidak berguna, khawatir, dan gagal mendidik putra-putrinya. Jika mama tenang, kesehatan beliau juga akan baik.”
Dedek menghela nafas. Chica dan Anne menyusut hidung. Tetes air melewati pipi mereka dan jatuh ke taplak meja. Mataku penuh.
*****

Sehari kemudian
“Nenek! Nenek!” teriakan si kembar membahana mengisi rumah. Mereka menyambut neneknya yang baru turun dari mobil. Yang dipanggil segera meletakkan tas tangan dan berlutut menyambut cucu-cucu. Beliau memeluk dan mencium pipi bocah-bocah 4 tahun itu.
Usai ritual cium tangan dan pipi dengan semua anaknya, mama berdiri menatap garasi rumah yang telah kami modifikasi. Mama tersenyum seraya merangkul pundak Dedek dan Anne.
“Jadi, kalian ingin mama membagi kasih untuk semua orang?” tanya mama.
“Bagi kami, di dunia ini tidak ada kopi seenak Kopi Mama. Tidak ada kasih sehangat kasih mama. Jika tidak mau berbagi disebut pelit, maka kami tidak pelit membagi aroma kasih mama dengan orang lain.” Kata Chica.
Mama tersenyum haru.
Lima menit kemudian aroma kasih mengisi udara di kafe Kopi Mama. Mamaku beraksi dengan hal yang sangat beliau sukai. Kali ini tidak akan hanya untuk kami, tetapi juga akan untuk orang lain. Mama akan memiliki kesibukan baru memberikan petunjuk bagi dua pegawai yang meracik kopi. Mungkin akan butuh penyesuaian dan alat-alat baru sesuai keinginan mama. Tetapi setidaknya modifikasi ini akan membuka pintu bagi terbaginya aroma kasih bila dibutuhkan orang lain.
Tembok utama di belakang meja racik masih kosong. Kupikir, akan kutuliskan “Kopi Mama, aroma kasih untuk semua generasi.”



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar